Langsung ke konten utama

Review Buku Filosofi Teras

 

Ada yang belum pernah baca buku Filosofi Teras?

Sebenernya aku baru baca bab-bab awal gitu si. Dari bab awal aku dapet sesuatu yang menarik dan aku ngerasa harus aku bagi (ngga nding, sebenernya biar ada bahan aja buat blog. Ngga mau di kick :p).

Aku tulis sambil mengingat-ingat ya, soalnya bukunya ketinggal di kosan (wkwkwk). Secara sederhana yang aku tangkep dari bab awal di buku ini yaitu ada pembagian cara berpikir yang bikin kamu lebih simple dalam menghadapi masalah hidup. Ada tiga pembagian cara berpikir: 1) Yang tidak bisa kamu kendalikan, 2) Yang bisa kamu kendalikan, 3) Yang tidak bisa kamu kendalikan tapi bisa kamu usahakan.

Aku bakal jelasin pakai bahasaku sendiri ya, soalnya pemahaman orang pasti beda-beda. Mungkin yang aku pahami dari sudut pandangku seperti ini dan orang lain memiliki sudut pandang yang beda. Makanya lebih disarankan kalo baca bukunya langsung.

1.     Yang tidak bisa kamu kendalikan

Poin ini cocok banget nih buat kaum overthinking (kayak aku wkwk). Jadi sebenernya ada hal-hal diluar kendali kita yang tidak perlu kita pikirkan karena hal itu ada diluar kendali kita. Hal-hal diluar kendali kita meliputi pikiran orang lain, cuaca, iklim dan seterusnya.

Sebagai contoh, kita tidak bisa mengendalikan pemikiran orang tentang kita baik itu hal baik atau hal buruk. Seandainya orang lain menilai kita buruk, toh itu pikiran mereka dan masalah mereka. Penilaian mereka bukanlah hal yang bisa kita atur karena pikiran mereka milik mereka sendiri. Kita hanya bisa mengendalikan reaksi atas penilaian mereka, baik itu reaksi positif atau negative itu tergantung dari diri kita.

2.     Yang bisa kamu kendalikan

Satu-satunya yang bisa kita kendalikan adalah diri sendiri, baik itu pikiran, reaksi, emosi kita dan segala sesuatu dalam diri kita masing-masing. Pertanyaannya sudah bisa kah kita mengendalikan pikiran, reaksi dan emosi kita? Keliatannya mudah tapi beneran, prakteknya harus berkali-kali biar paham, biar kek ada autopilot-nya gitu (hehe).

Sebagai contoh, kita terjebak di dalam kemacetan. Kita tidak bisa menegndalikan kemacetan seketika berubah menjadi jalanan yang lancar dan lengang, tapi kita bisa menentukan reaksi kita terhadap kemacetan. Kita bisa saja marah-marah tetapi itu tidak akan mengubah keadaan dan malah memperburuk suasana hati kita. Alih-alih kita marah mungkin lebih baik berpikir kalau dengan macet ini kita bisa punya kesempatan untuk ngobrol lebih dalam dengan teman semobil, atau bila sendiri kalian bisa lebih menikmati waktu bebas kita dengan melakukan hal yang kita senangi seperti menyanyi atau mendengarkan music misalnya.

3.     Yang tidak bisa kamu kendalikan tapi bisa kamu usahakan

Hal yang tidak bisa kamu kendalikan tapi bisa kamu usahakan misalnya prestasi akademik, Kesehatan, hubungan relationship. Bisa dibilang hasil bukan kita yang menentukan tapi kita bisa berusaha agar hasilnya tidak terlalu buruk. Konsep ini oke banget lhoh menurut aku, soalnya kita jadi engga terlalu berharap banget sama hasil dan kita tetap berusaha sebaik mungkin. Konsep ini menurut aku cocok banget sama Islam, kita ikhtiar (berusaha) Allah yang mentukan (aduh kenapa aku hubungin terus ya sama agama).

Yak cukup segini aja reviewnya karena udah malam dan aku udah ngantuk. Mana besok hari senin dan ada upacara di kantor. Semoga dengan adanya review ini, kita yang masih menghawatirkan hari esok bisa lebih belajar untuk mengendalikan pikiran negatif kita dan tetep waras yaaa (ini buat aku sendiri juga si).

See yaaa 😉

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wisata Edukasi Omah Partoredjan Jogjakarta

  Butuh review atau referensi wisata di Jogakarta? Butuh wisata yang bisa buat seru-seruan sama temen-temen atau keluarga? Butuh wisata yang engga ada edukasinya juga? Selamat anda ada di bacaan yang tepat (hehehe). Review kali ini akan membahas mengenai Rumah Partoredjan dan Desa Ekowisata Pancoh. Karena yang akan saya review terbagi menjadi dua maka akan dijabarkan satu per satu. Rumah Partoredjan Rumah Partoredjan merupakan salah satu wisata yang terletak di Pancoh, Girikerto, Kec. Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta . Jam opersional Rumah Partoredjan dari pukul 09.00 sampai dengan 17.00. Menu makanan di tempat ini umumnya makanan tradisional dengan pilihan prasmanan atau menu paket. Harga makanan dan minuman di sini berada pada kisaran harga Rp 5.000 sampai dengan Rp 30.000. Menu Omah Partoredjan Rumah Partoredjan ini tempat makan keluarga yang sebagian besar semi out door (jadi kalo ujan agak basah-basah dikit). Suasana di Rumah Partoredjan sangat asri d...

Review Café Goolali Padma Semarang

Di sini ada yang suka banget makan dessert engga? Hari minggu kemaren aku sama temen aku keracunan konten tiktok yang ngebahas dessert di ambience di Goolali. Goolali ini bagian dari hotel Padma, salah satu hotel bintang 5 di Semarang. Goolali Hotel Padma terletak di lobby Hotel Padma yang beralamat di Jl. Sultan Agung No. 86, Wonotingal, Kec. Candisari, Kota Semarang, Jawa Tengah. Dari jauh udah kelihatan sih Hotelnya, karena emang gedungnya tinggi dan logonya ada di bagian atas Gedung. Begitu sampai di lobby Hotel Padma kita masuk ke bagian pemeriksaan barang dan Goolali ada dibalik pintu masuk bagian ujung deket resepsionis dan taman. Tempatnya agak terbuka karena menyatu dengan lobby, resepsionis dan ruang tunggu hotel. Untuk yang agak privat mungkin bisa pilih bagian outdoor di deket taman yaa. Sebenernya aku sama temen aku juga pengennya di outdoor deket taman, tapi karena kebetulan saat itu rameee banget akhirnya kita putuskan buat duduk di dalem aja. Begitu sampai di e...

Prosesku Mengenali Diri Sendiri

Adakah dari kalian pernah menyesal setelah marah? Mungkin di sisi lain aku merasa lega karena meluapkan emosi, tapi setelah itu perasaan bersalah dan menyesal tiba-tiba muncul. Kalau ada kita sama. Ingin rasanya memutar waktu dan melarang diri untuk tidak marah dan meluapkannya. Ingin rasanya tetap tenang dan menyelesaikan hal tersebut dengan kepala dingin, tapi apa daya aku “kalah” dengan emosi negatif tersebut. Marah? Apa si itu marah? Dari mana datangnya marah? Apakah marah itu gangguan dari luar atau perasaan yang muncul atas ketakutanku yang tidak aku sadari? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul ketika aku menyesali keadaanku yang “kalah” dan mengingat semua emosi negatif yang pernah aku keluarkan. Menggunakan pertanyaan tersebut aku mencoba mencari diriku. Aku mengingat kembali keadaan sebelum aku merasakan marah tersebut. Aku bertanya pada diri sendiri “Kenapa aku marah?” . Jawaban yang bisa aku dapat adalah karena perasaan tidak nyaman akan sesuatu keadaan atau p...