Adakah dari kalian pernah
menyesal setelah marah? Mungkin di sisi lain aku merasa lega karena
meluapkan emosi, tapi setelah itu perasaan bersalah dan menyesal tiba-tiba muncul.
Kalau ada kita sama.
Ingin rasanya
memutar waktu dan melarang diri untuk tidak marah dan meluapkannya. Ingin
rasanya tetap tenang dan menyelesaikan hal tersebut dengan kepala dingin, tapi
apa daya aku “kalah” dengan emosi negatif tersebut.
Marah? Apa si
itu marah? Dari mana datangnya marah? Apakah marah itu gangguan dari luar atau
perasaan yang muncul atas ketakutanku yang tidak aku sadari?
Pertanyaan-pertanyaan
itu muncul ketika aku menyesali keadaanku yang “kalah” dan mengingat semua
emosi negatif yang pernah aku keluarkan. Menggunakan pertanyaan tersebut aku
mencoba mencari diriku.
Aku mengingat
kembali keadaan sebelum aku merasakan marah tersebut. Aku bertanya pada diri
sendiri “Kenapa aku marah?”. Jawaban
yang bisa aku dapat adalah karena perasaan tidak nyaman akan sesuatu keadaan atau
perbuatan seseorang.
Kemudian aku bertanya
pada diriku “Apakah keadaan atau
perbuatan seseorang yang membuatku marah?” Hmm pertanyaan yang sulit, coba
aku sederhanakan lagi.
“Keadaan seperti apa yang membuat aku
merasa tidak nyaman dan memunculkan emosi negatif?”
Anganku
kembali sebelum aku merasakan emosi negatif tersebut. Saat itu aku merasakan perut
kosong dan rasa lemas tak bertenaga. Betapa kesalnya aku ketika aku tidak bisa
memikirkan hal lain selain perasaan lapar yang menyiksa tapi mereka membeo tak
jelas dan memuatku muak (yang kupikirkan saat itu). Ah mungkin memang lapar
yang membuatku merasakan perasaan tidak nyaman sehingga dengan mudahnya menghasilkan
emosi negatif.
Tapi tunggu,
kadang kalau aku merasa perutku nyaman tetap saja aku bisa merasakan emosi negatif
tersebut. Coba aku ingat kembali keadaanku pada waktu yang lain. Langit yang
bergitu cerah dan matahari yang begitu terik, membuatku merasakan rasa yang tak
nyaman. Ingin rasanya aku mengutuk perasaan gerah yang ku alami, tapi pada
siapa? Aku tak punya jawaban yang tepat dan perasaan tidak nyaman tersbut terus
terngiang dikepalaku. Bisa terbayangkan saat panas menyiksa dan tiba-tiba teman
kamu mengeluhkan sesuatu, berasa pengen bilang “Bisa diem ngga si, berisik
banget pusing nih”
Aku membayangkan
“Seandainya tadi aku berada dalam keadaan
nyaman apakah perbuatan orang tersebut tidak menggangguku?”
Setelah
mengingat dan merasakan keadaan nyaman jawabannya adalah “Ya”, saat aku dalam
keadaan nyaman pikiranku tidak dipenuhi dengan beban atau pikiran lain tentang lapar
dan rasa panas. Pada saat nyaman pikiranku milikku, dan dengan mudah aku bisa
mengisi dan memusatkan pikiranku pada hal yang aku anggap penting.
“Apakah keadaan nyaman selalu bisa meredam
emosi negatif tersebut?“
Hmm sepertinya
begitu. Tapi kalau dipikirkan lagi ada keadaan di mana aku ada di keadaan yang
nyaman tapi emosi negatif itu tetap muncul. Kadang disaat aku khawatir akan
masa depan, karir, keuangan, keluarga. Disaat tersebut pikiranku terbagi dan
membuat aku kehilangan kontrol pikiran akan diriku sendiri kemudian dengan
mudah emosi negatif itu muncul.
Mungkin aku
tipe orang yang overthinking, selalu memikirkan yang belum terjadi. Mungkin aku
orang yang terlalu takut untuk menghadapi/menyelesaikan/mencari jalan keluar
atas semua permasalahan yang terjadi dan bertanggungjawab/merasakan dampak atas
semua konsekuensi/keputusan/penyelesaian yang aku ambil? Entah itu masa depan,
karir, keuangan dan/atau keluarga?
Manapun
keadannya yang hanya ada dalam pikiranku atau yang selalu aku pikirkan kalau
tidak diwujudkan dalam keadaan nyata hanya akan menjadi beban dan memenuhi
pikiranku. Mungkin aku memang sudah berusaha, tapi tetap semua kemungkinan bisa
terjadi dan itu semakin membuat pikiranku terbebani. Mungkin jalan satu-satunya
yang aku dapat agar pikiranku tak terbagi adalah dengan mengikhlaskan
bagaimanapun hasilnya atau menyerahkannya pada Tuhan.
Dengan
demikian pikiranku tidak terpenuhi lagi dengan beban atau hal lain yang
membuatku tidak bisa mengendalikan diriku untuk meredam emosi negatif.
Tenanglah
diri, tak perlu sempurna cukup lakukan. Tenanglah diri, tak perlu kecewa
bukankah salah juga bagian dari proses? Tenanglah diri, bagaimanapun hasilnya
kamu sudah berusaha semaksimal mungkin, bukankah proses juga hasil? Tenanglah
diri, karena bukan hasil yang jadi tujuan utama tapi menikmati dan menerima setiap
jalannya kehidupan yang menjadi kunci utama kebahagiaan.
Komentar
Posting Komentar
Thanks to read my blog :)